Tentang SIJAGA-MAJENE
Kawasan Kota Tua Majene merupakan ruang budaya hidup (living cultural landscape) yang mencerminkan perjumpaan antara peradaban lokal Mandar, warisan maritim Nusantara, dan jejak kolonial. Di dalamnya tersebar situs-situs bersejarah seperti makam raja-raja, pelabuhan kolonial, masjid tua, serta rumah-rumah panggung tradisional yang hingga kini masih menjadi bagian dari aktivitas masyarakat pesisir. Tradisi dan kearifan lokal yang tumbuh di kawasan ini mencerminkan kekayaan budaya Mandar, termasuk dalam bentuk oral tradition, sistem pengetahuan lingkungan, navigasi laut tradisional, serta ritus-ritus adat yang berhubungan erat dengan alam, cuaca, dan keselamatan hidup. Kawasan ini juga menjadi ruang ekspresi budaya dalam berbagai bentuk, seperti Festival Kota Tua, maelo (gotong royong pesisir), panre’ banua (penjaga kampung), serta aktivitas nelayan dan pengrajin lokal. Namun demikian, tingginya kerentanan terhadap bencana alam seperti tsunami, gempa bumi, dan abrasi yang pernah menyebabkan ratusan korban jiwa (tsunami 1969, gempa 2021) mengancam keberlanjutan warisan budaya di wilayah ini. Situs-situs penting yang berada di pesisir, serta narasi-narasi budaya yang masih tersimpan secara lisan, menghadapi risiko hilang atau rusak apabila tidak terdokumentasikan dan dilindungi secara terpadu.
SIJAGA-MAJENE (Sistem Jaringan Aman dan Giat Budaya Majene), hadir untuk merespons tantangan tersebut melalui pendekatan inovatif: pengembangan sistem informasi spasial berbasis WebGIS yang mengintegrasikan lokasi situs budaya, jalur evakuasi tradisional, pengetahuan lokal, serta peta ancaman bencana berbasis historis dan prediksi. Sistem ini tidak hanya ditujukan sebagai alat mitigasi risiko, tetapi juga sebagai arsip digital budaya komunitas yang dapat dimanfaatkan untuk edukasi, pelestarian, dan pengembangan wisata berbasis kearifan lokal. Lebih dari sekadar proyek teknologi, WebGIS ini merupakan upaya penyelamatan memori kolektif masyarakat pesisir Majene, agar tidak hilang oleh waktu maupun oleh bencana. Melalui keterlibatan aktif masyarakat, pelaku budaya, akademisi dan pemangku kepentingan lainnya, kegiatan ini membangun jembatan antara warisan budaya tradisional dan teknologi informasi modern, demi masa depan Kota Tua Majene yang tangguh dan berbudaya.
TUJUAN SISTEM
Sistem informasi spasial budaya dan bencana tsunami berbasis WebGIS ini dibangun untuk memetakan dan mendokumentasikan:
Batas wilayah Kota Tua Majene serta situs budaya dan bangunan bersejarah di Kota Tua Majene.
Kondisi spasial dan narasi historis kejadian bencana tsunami beserta gambaran kearifan lokal dan budaya terkait.
Informasi kebudayaan termasuk event budaya dan lokasi terselenggaranya secara real-time.
Sorotan Cagar Budaya
Beberapa aset cagar budaya pilihan yang memiliki nilai-nilai sejarah sangat tinggi di Majene.
Kompleks Makam Ka`ba
To Merrupa-rupa Bulawang
Makam ini berada di atas puncak gunung (Buttu Ayu Litaq) Makam sudah tidak utuh
Lombeng Susu
Berita & Informasi Terbaru
Kabar kegiatan, edukasi, dan publikasi seputar cagar budaya Majene.
Lomba Segitiga Sandeq 2026 Lamboriq Community Tutup dengan Meriah, Kasat Polair Polres Majene Serahkan Hadiah Kepada Juara
MAJENE – Riuh sorak masyarakat mewarnai pesisir Pantai Lakkading, Dusun Lakkading, Desa Limbua, Kecamatan Sendana, Kabupaten Majene, saat gelaran Final Lomba Segitiga Sandeq 2026 berlangsung meriah, Minggu (6/9/2026). Ajang yang diselenggarakan Lamboriq Community tersebut tidak hanya menjadi tontonan menarik bagi masyarakat pesisir, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan sekaligus menjaga eksistensi budaya maritim khas Mandar yang lekat dengan perahu Sandeq. Suasana semakin semarak dengan hadirnya Kasat Polair Polres Majene Iptu Armin, Camat Sendana Nardi, S.Pd., Kapolsek Sendana IPTU Bafruddin Pambabu, S.H., para juara lomba, serta masyarakat dan penonton yang memadati kawasan pesisir. Kehadiran jajaran kepolisian dalam kegiatan tersebut turut menjadi bagian dari dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan masyarakat yang berlangsung di wilayah pesisir Majene, sekaligus memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman dan tertib. Usai perlombaan, Iptu Armin turut mengambil bagian dalam momen penyerahan hadiah kepada para pemenang. Penyerahan tersebut menjadi penutup manis bagi para peserta yang telah menunjukkan kemampuan, ketangguhan, dan semangat berkompetisi di atas laut. Bagi masyarakat, Lomba Segitiga Sandeq 2026 bukan sekadar ajang adu kecepatan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi momentum untuk merawat tradisi bahari sekaligus memperkuat kebersamaan masyarakat melalui semangat olahraga dan budaya maritim. Dengan dukungan berbagai pihak, gelaran Sandeq diharapkan terus berkembang sebagai salah satu ikon budaya pesisir yang mampu menarik perhatian masyarakat sekaligus menjadi kebanggaan daerah Kabupaten Majene. Sumber : Berita Sulawesi.id
Cagar Budaya
Cagar Budaya Lorem IpsumCagar Budaya Lorem